Menggugat Humanisasi: Ulasan Buku "Pendidikan Kaum Tertindas" Karya Paulo Freire

Penulis : Atiqah Nurul Afifah Rahmat

Buku Pendidikan Kaum Tertindas karya Paulo Freire pertama kali muncul pada tahun 1960-an, dipicu oleh dinamika politik otoriter di Amerika Latin serta pengalaman langsung sang penulis saat memfasilitasi program literasi bagi kaum tani di Brasil. Naskah ini melampaui batasan modul pembelajaran pada umumnya; karya tersebut mewujud sebagai seruan politis dan pemikiran filosofis mendalam yang menegaskan bahwa proses belajar-mengajar harus menjadi sarana pembebasan manusia, bukan alat untuk melanggengkan dominasi.

Gagasan dasar Freire berakar pada pandangan bahwa arah sejarah setiap individu adalah mewujudkan humanisasi, yakni proses menjadi manusia yang mandiri, berdaya, dan memiliki kesadaran otonom. Tatanan sosial yang timpang menciptakan penindasan yang merendahkan martabat baik pihak yang tertindas maupun pihak penindas. Kaum tertindas kehilangan kesempatan untuk menyuarakan pandangan hidup mereka, sementara pihak penindas mengalami kemerosotan nilai kemanusiaan akibat upaya mempertahankan kekuasaan. Proses pembebasan yang sejati harus dipelopori oleh kelompok yang tertindas, meskipun tantangan berat muncul karena pola pikir pihak penindas sering kali turut mengendap dalam kesadaran mereka sendiri.

Kontribusi akademis yang krusial dari naskah ini terlihat pada analisis kritis Freire terhadap sistem pengajaran tradisional yang ia sebut sebagai "Pendidikan Gaya Bank". Dalam mekanisme pasif ini, guru memposisikan diri sebagai pihak yang menguasai seluruh pengetahuan dan terus-menerus menanamkan informasi ke dalam diri siswa, sementara siswa ditempatkan sebagai wadah pasif yang hanya menerima dan menghafal materi. Komunikasi satu arah ini dirancang untuk menumpulkan daya nalar kritis siswa, sehingga mereka terbiasa menyesuaikan diri dengan kondisi sosial yang tidak adil tanpa memiliki keberanian untuk mempertanyakannya.

Untuk mengatasi dampak dari sistem yang membatasi tersebut, Freire menawarkan pendekatan pendidikan yang berorientasi pada pengenalan dan penyikapan masalah, yang berlandaskan pada kesetaraan dan komunikasi dua arah. Melalui metode ini, pendidik dan peserta didik bermitra untuk mengamati secara saksama dan membedah realitas kehidupan di lingkungan mereka. Interaksi tersebut memicu munculnya kesadaran kritis, yakni pemahaman bahwa kondisi kemalangan atau ketimpangan sosial yang dialami bukanlah ketetapan mutlak dari alam, melainkan bentukan struktur sosial yang dapat diperbaiki. Pemahaman ini kemudian diwujudkan melalui praktik, yang merupakan perpaduan seimbang antara perenungan mendalam dan langkah-langkah nyata di tengah masyarakat.

Pengaruh pemikiran Freire terus bertahan dan memberikan dampak luas dalam bidang pendidikan internasional. Gagasan-gagasan utamanya menjadi pilar penting bagi pengembangan literasi kritis, program penguatan komunitas yang terpinggirkan, hingga penyusunan kurikulum sekolah modern yang menekankan pengembangan nalar kritis. Buku ini menegaskan secara mendasar bahwa proses pendidikan tidak pernah berada dalam posisi netral; sistem pendidikan akan selalu berpihak pada upaya mengendalikan manusia atau menjadi instrumen utama untuk membebaskan mereka.

 


0 Komentar