PRESS RELEASE
INTERPERSONAL SKILL
AND TRAINING (INSTING) HIMASEI LANJUTAN
Public
Speaking dan
Dasar-Dasar Penyuluhan
Makassar, 13-14 Juni
2026 — Himpunan Mahasiswa
Profesi Agrobisnis Perikanan Universitas Hasanuddin (HMP ABP HIMARIN FIKP
UNHAS) menyelenggarakan kegiatan “Interpersonal Skill and Training
(INSTING) Himasei Lanjutan” selama dua hari berturut-turut, yaitu pada hari Sabtu
dan Minggu, 13-14 Juni 2026, pukul 13.30 – 17.00 WITA, bertempat di Aula Lantai
2 Gedung Baru (Gedbar) FIKP Unhas. Kegiatan ini merupakan rangkaian lanjutan
dari program pengembangan diri mahasiswa yang telah dilaksanakan sebelumnya.
Berfokus pada penguatan kemampuan komunikasi dan pemahaman dasar penyuluhan
perikanan bagi anggota HMP ABP HIMARIN FIKP UNHAS, pelatihan ini dipandu oleh
Dewi Sinta yaitu anggota Divisi Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa Periode 2026
tersebut bertindak sebagai moderator selama kegiatan berlangsung.
Hari Pertama:
Membangun Kepercayaan Diri Melalui Public Speaking
Pada hari pertama, Sabtu 13 Juni 2026,
kegiatan diisi dengan materi Public Speaking yang disampaikan oleh Ibu Rahma
Hidayati Maharuddin, S.Pi., M.Si., Penyuluh Perikanan Kota Makassar yang juga
menjabat sebagai Ketua Pokja Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan BRPBAPPP
Satminkal Maros. Kelas pelatihan ini diikuti oleh
peserta yang terdiri dari mahasiswa anggota HMP ABP HIMARIN FIKP UNHAS
seabanyak 13 orang dan Badan Pengurus Harian HMP ABP HIMARIN FIKP UNHAS
sebanyak 14 orang.
Dalam pemaparannya, Ibu Rahma
Hidayati Maharuddin menjelaskan tiga hal mendasar yang perlu dikuasai mahasiswa
sebelum tampil di depan umum, yaitu professional grooming, adaptif
profesional, dan first impression. Ia menekankan bahwa kebersihan
fisik, cara berpakaian, postur tubuh, dan kesesuaian penampilan dengan
lingkungan merupakan modal awal sebelum berbicara di depan audiens. Beberapa
kriteria praktis yang perlu diperhatikan antara lain pakaian yang rapi dan
sesuai tempat, penggunaan warna yang tidak mencolok, menjaga kebersihan badan
dan mulut, serta menghindari aksesori yang berlebihan.
Selain itu, pemateri juga
menjelaskan konsep adaptif profesional, yaitu kemampuan menyampaikan
pesan dengan standar kualitas yang tinggi namun tetap menyesuaikan gaya bicara,
bahasa, dan materi sesuai dengan lawan bicara. Ia mencontohkan bahwa saat
berhadapan dengan kalangan profesional, penyampaian harus jelas dengan data
yang valid, sementara saat berhadapan dengan masyarakat umum perlu digunakan
bahasa lokal yang mudah dipahami.
Materi ditutup dengan pembahasan first impression, di mana tujuh detik pertama saat bertemu audiens menjadi penentu apakah pesan akan didengarkan atau diabaikan, yang dipengaruhi oleh artikulasi dan intonasi suara, jeda pengambilan napas, serta kontak mata. “Kesan pertama adalah gerbang utama. Jika gerbangnya tertutup karena kesan pertama yang buruk, maka materi public speaking sekeren apa pun tidak akan sampai ke telinga audiens,” ujar Ibu Rahma Hidayati Maharuddin. Sesi ini diakhiri dengan simulasi perkenalan diri menggunakan personal branding canvas, di mana setiap peserta diminta menuliskan nama, kelebihan diri, keahlian, ciri khas, serta tiga kata yang mewakili dirinya, sebagai bentuk latihan langsung dari teori yang telah disampaikan.
Hari Kedua:
Memperkuat Pemahaman Dasar Penyuluhan Perikanan
Kegiatan dilanjutkan pada hari
kedua, Minggu 14 Juni 2026, dengan materi Dasar-Dasar Penyuluhan yang
disampaikan oleh Bapak Iswahyuddin, S.Pi., M.Pi., Penyuluh Perikanan Muda yang juga menjabat
sebagai Kepala Instalasi Tambak Silvofishery Marana. Kelas
pelatihan ini diikuti oleh peserta yang terdiri dari mahasiswa anggota HMP ABP
HIMARIN FIKP UNHAS seabanyak 14 orang dan Badan Pengurus Harian HMP ABP HIMARIN
FIKP UNHAS sebanyak 14 orang.
Bapak Iswahyuddin mengawali materi dengan menjelaskan istilah “penyuluhan” yang
berasal dari kata suluh, yang berarti
penerangan. Ia memaparkan
bahwa penyuluhan merupakan kegiatan memberikan pembelajaran, pendampingan, dan
pemberdayaan kepada pelaku utama, pelaku usaha, serta kelompok atau kelembagaan
masyarakat, dengan tujuan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap
(PKS) sasaran. Ia juga membedakan istilah “menyuluh” sebagai kegiatan memberi
penerangan atau menjelaskan sesuatu, dengan “penyuluh” sebagai sebutan bagi
orang yang bertugas memberikan penerangan, bimbingan, pendidikan, dan
pendampingan tersebut.
Pemateri menjelaskan bahwa
kegiatan penyuluhan tidak hanya dapat dilakukan oleh penyuluh profesional,
tetapi juga oleh pelaku utama atau tokoh masyarakat, akademisi dan praktisi,
hingga kelompok masyarakat atau organisasi, dengan sasaran penyuluhan meliputi
pelaku utama, pelaku usaha, serta kelompok atau kelembagaan masyarakat.
Selanjutnya, Bapak Iswahyuddin memaparkan falsafah dasar dalam penyuluhan, yaitu menghargai
martabat manusia, percaya pada kemampuan masyarakat, belajar melalui
pengalaman, dan membantu masyarakat untuk dapat menolong dirinya sendiri,
sejalan dengan prinsip penyuluhan sebagai upaya pemberdayaan yang meliputi
penyadaran, peningkatan kapasitas, penguatan kelembagaan, hingga kemandirian
masyarakat.
Materi dilanjutkan dengan
pembahasan metode penyuluhan perikanan, baik berdasarkan jumlah sasaran maupun
media yang digunakan, mulai dari media terdengar seperti tatap muka dan siaran
radio, media tercetak seperti brosur, poster, dan leaflet, hingga media
tertayang seperti video dan siaran televisi. Iswahyuddin menekankan bahwa
pemilihan metode penyuluhan perlu mempertimbangkan beberapa hal, seperti tujuan
kegiatan yang ingin dicapai, tingkat adopsi atau penerimaan sasaran terhadap
hal baru, karakteristik sasaran dan wilayah, hingga cara penyampaian materi
yang sesuai.
Sebagai penutup, pemateri menjelaskan tahapan dalam menyusun rencana kerja kegiatan penyuluhan, yang terdiri dari tahap persiapan (meliputi pemetaan potensi wilayah, identifikasi masalah, kondisi sosial dan lingkungan, serta tingkat pengetahuan sasaran) dan tahap pelaksanaan (meliputi penentuan sasaran, tujuan, metode, media, hingga jadwal penyuluhan), serta pentingnya instrumen penyuluhan untuk mengukur kebutuhan, proses, dan hasil dari kegiatan penyuluhan yang dilaksanakan.
Kegiatan yang dipandu oleh Dewi Sinta sebagai moderator, pada kedua hari pelatihan berlangsung interaktif. Para peserta terlihat aktif mengajukan dalam menjawab pertanyaan dari pemateri maupun berbagi pengalaman, baik terkait teknik komunikasi dan personal branding maupun penerapan konsep dasar penyuluhan dalam konteks nyata di lapangan.
Sebagai bentuk apresiasi atas
partisipasi peserta, panitia memberikan sertifikat kepada seluruh peserta yang
telah mengikuti rangkaian kegiatan hingga selesai. Selain itu, peserta juga
berkesempatan untuk terlibat sebagai Volunteer Desa Mitra, sebagai wadah untuk
menerapkan langsung ilmu yang telah diperoleh selama pelatihan dalam bentuk
pengabdian kepada masyarakat.
Melalui
kegiatan “Interpersonal Skill and Training (INSTING) Himasei Lanjutan”
ini, HMP ABP HIMARIN FIKP UNHAS berharap dapat melahirkan kader-kader yang
tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan komunikasi,
kepercayaan diri, dan pemahaman dasar penyuluhan yang kuat, sehingga siap
berkontribusi nyata bagi masyarakat, khususnya dalam pengembangan sektor
perikanan di desa-desa mitra.
Kedepannya, BPH HMP ABP HIMARIN
FIKP UNHAS berkomitmen untuk terus menghadirkan rangkaian program Interpersonal
Skill and Training secara berkelanjutan, sebagai bagian dari upaya
menjaga budaya dan kekeluargaan Himasei sekaligus mencetak generasi mahasiswa
perikanan yang komunikatif, kompeten, dan siap terjun ke masyarakat.
Oleh: Divisi
Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa






0 Komentar