Ketika Anak Pesisir Tak Lagi Ingin Melaut: Alarm Regenerasi Nelayan Indonesia

Indonesia dikenal sebagai negara maritim dengan kekayaan laut yang melimpah. Berbagai kebijakan pembangunan pun menempatkan sektor kelautan sebagai pilar masa depan bangsa. Namun, di balik narasi tersebut, muncul persoalan yang kian mengkhawatirkan, yaitu menurunnya minat generasi muda untuk menjadi nelayan.

Masalah ini bukan sekadar perubahan pilihan pekerjaan, melainkan ancaman bagi keberlanjutan sektor perikanan. Minimnya regenerasi dapat mengganggu produksi perikanan tangkap, melemahkan ketahanan pangan, menghilangkan pengetahuan lokal masyarakat pesisir, serta memperlebar kesenjangan pembangunan antara wilayah pesisir dan perkotaan.

Ironisnya, pemerintah terus mendorong agenda ekonomi biru, hilirisasi, dan peningkatan ekspor hasil perikanan. Namun, keberhasilan program tersebut bergantung pada sumber daya manusia yang mampu mengelola laut secara berkelanjutan. Pertanyaannya, siapa yang akan melanjutkan peran itu jika anak-anak nelayan sendiri tidak lagi melihat laut sebagai masa depan?

Keengganan generasi muda bukan disebabkan oleh kurangnya semangat bekerja, tetapi karena profesi nelayan dinilai semakin tidak menjanjikan. Pendapatan yang bergantung pada musim, cuaca yang semakin sulit diprediksi akibat perubahan iklim, tingginya biaya operasional, serta sistem pemasaran yang belum berpihak kepada nelayan membuat pekerjaan ini dipandang penuh ketidakpastian. Dalam kondisi tersebut, memilih profesi lain merupakan keputusan ekonomi yang rasional.

Persoalan ini menunjukkan bahwa pembangunan perikanan masih lebih berorientasi pada peningkatan produksi dibandingkan kesejahteraan nelayan. Keberhasilan sering diukur melalui volume tangkapan dan nilai ekspor, sementara akses terhadap modal, teknologi, perlindungan sosial, dan kepastian pasar masih menjadi tantangan utama.

Perubahan iklim semakin memperburuk keadaan. Cuaca ekstrem mengurangi hari melaut dan membuat hasil tangkapan tidak menentu. Akibatnya, generasi muda tidak hanya mewarisi profesi nelayan, tetapi juga berbagai risiko yang menyertainya. Laut yang dahulu dipandang sebagai sumber penghidupan kini lebih sering dipersepsikan sebagai ruang dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi.

Di sisi lain, profesi nelayan masih identik dengan kemiskinan dan pekerjaan tradisional. Selama pekerjaan ini belum mampu memberikan penghasilan yang layak, perlindungan yang memadai, dan peluang berkembang, regenerasi akan sulit terjadi secara alami.

Karena itu, solusi tidak cukup melalui ajakan agar generasi muda kembali melaut. Yang dibutuhkan adalah transformasi sektor perikanan melalui pemanfaatan teknologi, akses pembiayaan, perlindungan sosial, serta sistem pemasaran yang lebih adil. Nelayan harus diposisikan sebagai pelaku usaha modern yang memiliki prospek ekonomi yang jelas.

Perguruan tinggi juga memiliki peran penting dalam mencetak inovator, wirausahawan, dan pendamping masyarakat pesisir, bukan hanya lulusan yang berorientasi menjadi pegawai. Inovasi yang lahir dari dunia akademik perlu benar-benar menjawab kebutuhan nelayan agar sektor perikanan menjadi lebih kompetitif dan menarik bagi generasi muda.

Pada akhirnya, krisis regenerasi nelayan mencerminkan bahwa pembangunan maritim belum sepenuhnya meningkatkan kualitas hidup masyarakat pesisir. Indonesia tidak kekurangan sumber daya laut, tetapi mulai kekurangan generasi yang bersedia mengelolanya. Jika kondisi ini terus dibiarkan, cita-cita menjadi poros maritim dunia akan sulit terwujud karena tidak ada cukup penerus yang siap menjaga dan memanfaatkan kekayaan laut secara berkelanjutan.


 

0 Komentar